Judul: WPAP Seni rupa Unik Asli Anak Negeri
File:

Sinopsis: SuaraEdukasi - Kekayaan seni dan budaya Indonesia tidak ada batasnya, Indonesia ternyata tidak hanya memiliki  memiliki wayang, batik, atau seni budaya lain yang telah diakui dunia. Bangsa yang kaya budaya ini mempunyai sesuatu yang patut diapresiasi dan dikembangkan, seorang illustrator yang dimiliki Indonesia, Wedha Abdul Rasyid menciptakan sebuah inovasi dibidang seni rupa, yaitu Seni rupa Foto Marak Berkotak yang kemudian menjadi Wedha’s Pop Art Portrait (WPAP). Wedha mengungkapkan melalui karyanya ini diharapkan membantu Indonesia memperkenalkan inovasi kepada dunia, beliau juga mengungkapkan Karya anak bangsa tidak boleh berhenti sampai disuatu pencapaian. Wedha Rasyid merupakan seorang illustrator yang malang melintang di media cetak sejak tahun 1970-an. Mulai 1977, ketika bergabung dengan majalah Hai, ia banyak membuat ilustrasi terutama karya-karya fiksi Arswendo Atmowiloto dan Hilman dengan Lupus-nya yang fenomenal. Di majalah itulah Wedha mengerjakan potret para tokoh dunia dari segala latar belakang: tokoh politik, musisi, seniman, sampai tokoh-tokoh fiktif. Wedha  ditahun 80an dikenal illustrator yang telah menghadirkan Lupus secara visual ke pembaca. Awal ide Wedha menciptakan seni WPAP di usia 40, dimana sudah mengalami penurunan fungsi untuk menggambar realis sehingga ia sulit menggambar wajah dalam bentuk yang realistis dan detail. Wedha kemudian mencoba illustrasi bergaya kubisme untuk gambarnya. Gaya ini kemudian tumbuh dan semakin populer sebagai bagian dari gaya pop art bahkan hingga dengan saat ini gaya illustrasi ini disebut Wedha’s Pop Art Potrait. Disinggung seninya pengaruh aliran pop art, Wedha mengatakan di tahun 1990an ia belum mengetahui karyanya tersebut pengaruh pop art atau tidak karena beliau hanya ingin menciptakan seni yang beda dari yang ada saat itu, diakhir 2007 melalui buku “perjalanan seni rupa modern” ISI Jogja, Wedha baru mengetahui bahwa seninya merupakan gaya pop art. Pada tahun 1998 perjalanan menciptakan Seni Pop Art ini tentu saja tidak lepas kritikan  dari seniman senior lain, bahkan karena kritikan tersebut Wedha sempat menghentikan niatnya untuk berkarya, namun di akhir tahun yang sama beliau dipertemukan oleh orang orang yang saat ini berpengaruh dibidang seni rupa, wedha di tagih karya pop art yang dulu pernah diciptakannya, ditahun 2008 beliau menamakan karyanya kepada public WPAP (Wedha Pop Art Potrait). Hingga saat ini penikmat WPAP sudah bermacam-macam profesi, dan anak anak muda tidak lepas sebagai penikmat karya ini, Wedha memandang anak muda saat ini menyukai hal yang baru dan beda, antusias kaum muda sangat tinggi untuk wpap. Sementara itu Di singgung mengapa tidak mengajar, beliau sudah menyerahkan semua kepada muda-mudi yang saat ini lebih jago membuat tutorial WPAP. Dalam seni POP art ini wedha menginginkan kekhususan dalam pop art ini, selain khusus wajah keseluruhan, juga kekhususan karakter tokoh yang dikenal dunia. Sehingga pop art ini tetap membawa ciri khas asli karakter tokoh tersebut. Dalam wawancara bersama kru Suara Edukasi, beliau sempat membocorkan rencananya untuk merambah dunia perwayangang, beliau mengatakan akan membuat karya wpap ini dengan adegan-adegang perwayangan yang dikenal masyarakat. Saat ini Wedha Rasyid masih terus berkarya dan aktif sebagai Pembina di Komunitas WPAP Bintaro. Wedha sendiri dalam mimpinya menginginkan suatu saat dunia melihat karya ini mengatakan ini Indonesia.
Download: http://podcast.suaraedukasi.com/infoedukasi/R09_0008.mp3