Suara Edukasi – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan serta Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan diskusi dan peluncuran buku Indeks Aktivitas Literasi Membaca atau Indeks Alibaca 34 provinsi yang berlangsung di gedung perpustakaan kemendikbud Jakarta, jumat 17 mei 2019. Diskusi ini menghadirkan Kepala Balitbang Kemendikbud Totok Suprayitno, Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Dadang Sunendar, serta Dirjen Paud Dikmas, Haris Iskandar. Kegiatan ini diawali dengan sambutan yang dipaparkan langsung oleh Kepala Balitbang Kemendikbud, Totok Suprayitno, sekaligus membuka kegiatan diskusi ini. Dalam sambutannya, Totok menyampaikan, alasan kurangnya kemampuan berbahasa dan memahami bahasa. Maka dari itu perlu adanya penilitian yang terdiri dari beberapa aspek.

(Audio Totok Suprayitno: Aspek Penelitian)

Hal ini juga ditambahkan oleh Lukman Solihin selaku peneliti dari indeks aktivitas literasi membaca 34 provinsi. Lukman mengatakan bahwa akses dan kebuta aksaraan masyarakat Indonesia sudah cukup baik hanya saja belum mampu meningkatkan budaya membaca. Maka dari itu sejak tahun 2016 muncul gerakan literasi nasional. Adapun tujuan dilakukannya penelitiannya ini ialah mengkaji dimensi dan indikator apa saja yang memungkinkan utnuk mengukur perilaku atau aktivitas literasi, menentukan cara penyusunan indeks, mencoba menghasilkan Indeks Aktivitas Literasi Membaca atau Indeks Alibaca.

(Audio Lukman Solihin: Indikator Indeks Alibaca)

Dapat diketahui bahwa, Indeks Alibaca nasional menurut dimensi paling terbesar ialah dimensi kecakapan dengan nilai 75,92. Kemudian dimensi alternatif sebesar 40,49 lalu dimensi budaya sebanyak 28,50 dan terakhir dimensi akses sebesar 23,09.

(ic/aa)