SuaraEdukasi – Memperingati Hari Aksara 2017 ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus berupaya dan berkomitmen dalam penutasan penduduk Buta Aksara. Salah satunya, melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud yang terus mengadakan buku bahan bacaan.
Kepala Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud, Prof. Dr. Gufran Ali Ibrahim, MS dalam wawancaranya dengan Radio Suara Edukasi, Jumat (9\8). Tahun 2016 lalu, sebanyak 165 judul buku sudah di selesaikan dan dibagikan ke berbagai daerah di Indonesia. Dan di Tahun ini ada 266 bahan buku bacaan yang kembali akan diterbitkan. Buku-buku tersebut mencakup berbagai tema seperti cerita rakyat, budaya kuliner hingga arsitektur tradisional.
Sementara itu, Capaian tahun 2016 berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud, penduduk Indonesia yang telah berhasil diberaksarakan mencapai 97,93 persen, atau tinggal sekitar 2,07 persen (3,4 juta orang).
Jika dilihat dari perbedaan gender, Prof. Gufran, menuturkan tampak bahwa perempuan memiliki angka buta aksara lebih besar jika dibandingkan dengan laki-laki. Prof Gufran menambahkan saat ini penyebaran angka buta aksara terbesar ada di Indonesia bagian timur.
Menurut Pejabat yang pernah menyelami Ilmu Linguistik di Universitas Hassanudin ini, pergerakan literasi di Indonesia saat ini di petakan menjadi empat tipe, yaitu tipe pertama mereka yang belum bisa baca dan tulis, tipe kedua tidak ada buku juga malas baca, tipe ketiga ada buku tapi malas baca, dan tipe keempat mereka yang rajin membaca.
Prof Gufran yang juga pernah menjadi Rektor Universitas Khairun ini berharap tipe ke satu, dua dan tiga terus di upayakan penyediaan bahan bacaaan yang memadai, dan mengembangkan literasi lanjut untuk tipe keempat atau mereka yang sudah memiliki minat baca yang tinggi. (chr\aar)